Setahun Telah Berlalu, Para Pengungsi di Nduga Masih Luntang-lantung dan Menderita, Astagfirullah

shares

Konflik bersenjata antara TNI dan kelompok separatis di kawasan Papua masih terus berlangsung. Hal ini sudah menelan banyak korban, baik dari pihak TNI atau anggota separatis, yang ngotot ingin merdeka dari Indonesia. Akibatnya, demi keselamatan warga, mereka diungsikan ke wilayah lain yang dianggap lebih aman.

Salah satu daerah yang menjadi pusat pemberontakan –yang sudah banyak menelan korban—adalah Nduga. Dalam beberapa tahun terakhir ini, lebih dari 20 nyawa tewas karena gencatan senjata yang tak kunjung usai. Bahkan di akhir 2018 lalu, aparat militer menyisir kampung Nduga untuk mencari orang yang terlibat dalam kelompok separatis. Hingga sekarang, masih banyak penduduk yang terlantar dan belum bisa pulang ke rumah mereka.

Pembantaian pekerja Trans Papua pada 2018 lalu

Pada Desember 2018 lalu, terjadi tragedy penembakan di Jalan Trans Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Kurang lebih 20 orang tewas dalam tragedy ini. Bahkan, karena sangat berbahayanya Nduga ini disebut sebagai zona merah.

Kejadian ini bukan hanya satu kali, pada tahun 2016, dua pekerja proyek tewas karena dibunuh oleh 15 orang. Pada 2017, operator eskavator bernama Yovicko Sondak ditemukan tewas di Kecamatan Mugi, Nduga. Yovicko diduga tewas diserang kelompok bersenjata, dilansir dari tirto.id.

Masyarakat diungsikan demi keamanan

Demi keamanan para masyarakat sipil, maka mereka diungsikan ke beberapa wilayah yang dianggap lebih aman dari Nduga. Salah satu daerah yang banyak ditempati oleh para pengungsi ini adalah Wamena, Lanny Jaya, dan juga Timika.

Warga lain memilih tinggal di hutan belantara ataupun gua. Namun, dalam pengungsian ini, warga sipil tidak merasa lebih baik, karena dalam satu hunian, bisa ditempati oleh 30-50 orang, bahkan ada juga yang berisi ratusan orang. Bayangkan saja, sudah kehilangan tempat tinggal di daerah asal, fasilitas pengungsian tidak kalah baik.

Trauma yang dirasakan oleh penduduk

Gencatan senjata ini jelas meninggalkan trauma dan rasa takut di hati para pengungsi –yang dulunya tinggal di Nduga. Salah satu warga bernama Klara (26), merasakan bahwa tidurnya tidak pernah nyenyak. Setiap kali ia mendengar suara dentuman keras, rasa takut dan keringat dingin akan keluar dari tubuhnya.

Hal itu tak lepas dari peristiwa yang ia alami pada akhir 2018 silam, saat kelompok separatis meneror dan membunuh orang yang tak bersalah tanpa ampun. Klara sendiri kala itu menyelamatkan diri bersama keluarganya dengan cara masuk ke dalam hutan.

Keinginan para penduduk Nduga

Direktur Eksekutif Yayasan Teratai Hati Papua Pater Jhon Jongga pernah mengungkapkan keinginan masyarakat Kabupaten Nduga, Papua saat ini untuk bisa hidup tenang tanpa konflik. Menurut John, satu-satunya jalan yang bisa membuat penduduk Nduga tak lagi luntang-lantung adalah pemerintah menarik pasukan TNI-Polri dari kampung mereka.

Sebab, walaupun penempatan pasukan aparat keamanan itu semula dikatakan sebagai operasi pengamanan, tapi yang terjadi justru seperti operasi militer, seperti dilansir dari kompas.com. Keberadaan para TNI ini dinilai sebagai pemicu bentrokan dan serangan yang dilakukan oleh KKB. Pasalnya, tak semua TNI yang bertugas paham akan budaya lokal yang ada di sana.

Selama kelompok separatis dan TNI yang bertugas mengamankan Nduga masih terus berselisih, maka konflik ini akan semakin susah diselesaikan. Akibatnya, bisa kita tebak kalau akan semakin banyak warga sipil yang terlunta-lunta dan terusir dari tanah kelahiran mereka sendiri.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar